Selangit menuju Surabaya

27 April 2017

Sejak lahir manusia itu bebas,

hanya terikat talipusar saja

Tuhan ciptakan kita bebas,

hanya menghamba pada Nya saja

Hingga akhirnya manusialah 

yang membuat batas itu,

yang menyambung ikatan itu,

pada negaranya, pada kotanya,

dengan keluarganya, dengan saudaranya

Bahkan terkadang mengikat diri

pada kotak tua bernama rumah.

Fluegen Hoch!!!

Iklan

Relativitas – Adi Purnomo

relativitas.jpg

Banyak cara untuk menyampaikan gagasan kepada khalayak, salah satunya ialah dengan menulis buku. Menulis buku bukan lagi monopoli dari satu profesi saja, kini berbagai macam kalangan dari berbagai profesi telah menjajaki dunia penulisan. Bahkan seorang yang sehari-harinya berprofesi sebagai arsitek, yang dikenal oleh khalayak selalu bekercimpung dengan gambar, juga bisa menulis buku. Adalah Adi Purnomo, seorang arsitek lulusan Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, yang menulis buku berjudul “relativitas ; arsitek di ruang angan dan keyataan”. Dalam buku ini terdapat proyek-proyek beserta gagasan-gagasan yang lahir selama perjalan karirnya berpraktik sebagai arsitek.

Yang menarik dalam buku ini Adi Purnomo tidak hanya menceritakan ikhtisar dari proyek-proyek yang ia kerjakan, namun juga memberikan kritik pada gagasan-gagasan yang dibuatnya sendiri. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh seorang arsitek, ia lebih memilih menekan ‘ke-aku-an’ nya ke level yang paling rendah. Dengan begitu justru Mamo (panggilan akrab Adi Purnomo) justru terlihat elegan dengan hasil karya yang sederhana namun begitu dalam baik dari segi teknis maupun pemaknaan. Ini mengingatkan saya pada jargon dari pendiri Apple, Steve Jobs, yang mengatakan, “Design isn’t just what it looks like and feels like, design is how it works”. Bahwa sebuah desain tidak hanya melulu tentang penampilan visual, terlebih jika itu adalah sebuah karya arsitektur. Arsitektur bukanlah patung yang indah mengisi sudut kota tanpa memberikan kontribusi pada manusia dan lingkungan. Arsitektur adalah lingkungan itu sendiri yang dengan sedikit rekayasa yang bertujuan meningkatkan kualitasnya.

Melalui tulisan-tulisan Mamo pada buku ini, kita (para arsitek) juga mendapat perenungan atau sebenarnya pengingat akan sesuatu yang pudar dalam praktik arsitektur kita dewasa ini. Regulasi, tren, permintaan pasar, kekuatan politik, kondisi ekonomi, bahkan TOR sayembara, semua yang telah dan selalu mempengaruhi perancangan, secara tidak langsung telah mengambil sebagian besar peran arsitek pada proses perancngan itu sendiri. Sehingga yang terjadi hanyalah pengulangan sesuatu atau bagian dari sesuatu yang pernah ada, tanpa mengerti terlebih dahulu apa dan untuk sebenarnya sesuatu itu ada. Hal ini disampaikan Mamo dibeberapa bagian secara eksplisit dan dipertajam pada bagian penutup.

Mamo bahkan telah mencontohkan betapa ‘nakal’-nya dia terhadap hal-hal yang mengambil peran arsitek seperti yang disebutkan diatas. Dalam sebuah proyek sayembara Mamo dengan sengaja menyindir gagasan dari sayembara itu sendiri. Benar-benar diluar nalar (mungkin) sebagian arsitek praktisi lainnya, karena ‘sewajarnya’ mengikuti sebuah sayembara selalu bertujuan untuk menang, bukan mengkritisi. Yang lebih luar biasa lagi adalah ketika Mamo mengerjakan proyek-proyek konservasi bangunan lama. Alih-alih sekedar menirukan gaya bangunan lama nya, Mamo justru menambahkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru ini justru memiliki tujuan lebih luas dari hanya sekedar konservasi bangunan lama, menjadi konservasi lingkungan yang ada disekitarnya.

Dengan gagasan-gagasannya yang tajam, keberanian mengambil sikap tapi berakar dari pribadi yang sederhana (tidak menunjukkan ke-aku-an berlebih dalam berkarya), sudah sepantasnya kita mengakui bahwa Adi Purnomo (Mamo) adalah seorang arsitek yang karya nya selalu layak untuk dinantikan. Baik fisik (arsitektur), maupun tulisan.

Review Film Babel (2006)

BABEL POSTER

Film ini bercerita tentang kebetulan, kejadian-kejadian yang secara tidak langsung saling berhubungan sebab-akibat. Kejadian demi kejadian tersebut dibungkus dalam 3 plot yang beda dengan latar yang berbeda pula, namun setiap plot ceritanya merupakan sebab/akibat dari plot lainnya. Setiap plot terjadi di Negara yang berbeda sehingga bisa dibayangkan bahwasanya setiap kejadian yang terjadi pada belahan bumi yang lain sebenarnya ada hubungannya dengan apa yang terjadi di belahan lainnya.

Semua kejadian itu berawal dari dua orang bocah yang iseng mencoba sebuah senjata laras panjang yang diberikan oleh ayahnya. Mereka adalah penduduk asli sebuah permukiman yang berada di perbukitan tandus di Maroko. Senjata diberikan kepada mereka itu untuk menembaki serigala yang mengintai kambing-kambing peliharaan mereka. Ketika itu ada sebuah bus yang berisi serombongan turis dari Amerika, melintasi perbukitan tempat mereka menggembala kambing. Duarrrr!! Iseng mereka menembakan senjata tersebut kearah bus.

Plot yang kedua bercerita tentang keluarga Amerika yang beranggotakan sepasang suami-istri, dua orang anak, dan seorang pembantu. Suatu hari sepasang suami istri ini memutuskan pergi berlibur kesuatu tempat yang menawarkan alam yang ‘tenang’, dengan meninggalkan kedua anaknya bersama pembantu ruamh tangga yang berasal dari Mexico. Oleh karena suatu sebab suami-isrti tersebut tidak bisa kembali tepat waktu sehingga pembantu harus lebih lama menjaga anak-anaknya. Sedangkan si pembantu harus menghadiri pesta pernikahan anak kandungnya di Mexico. Akhirnya ia memutuskan membawa kedua anak majikannya yang pada akhirnya menjadi perjalanan yang membahayakan nyawa mereka.

Sementara itu dibelahan bumi yang lain seorang gadis Jepang yang cantik namun bisu dan tuli, sedang asyik nongkrong dengan teman-temannya sesama tuna wicara+rungu. Gadis yang baru menyicipi kehidupan bebas ini akhirnya menemukan dirinya dalam kesedihan terkait dengan kematian ibunya. Terlebih karena polisi terus berupaya menemui ayah yang yang tinggal bersamanya dalam sebuah apartemen tinggi di Jepang. Ia menyangka polisi mencari ayahnya karena kasus kematian ibunya, tetapi yang sebenarnya mereka cari adalah keterangan tentang sebuah kepemilikan senjata laras panjang.

Yang menarik adalah dalam film ini secara eksplisit menunjukkan betapa paranoidnya orang Amerika terhadap orang asing, lingkungan yang tidak bersih, alam yang unsecure (menurut mereka), dan iklim yang uncomfort tanpa pengkondisian udara. Lucu memang mengingat Amerika dikenal sebagai negara adikuasa dengan kemajuan teknologi yang luar biasa, kenapa harus takut? Toh semuanya bisa diatasi, harusnya. Dan hey, what the hell… merekalah turisnya! Mereka yang dengan sengaja datang jauh-jauh untuk sekedar ‘menikmati’ alam yang berbeda dengan negeri mereka.

Dalam satu scene di sebuah kedai makan yang dihampiri para turis Amerika ini, Ms. Jones mengeluarkan pisau dan garpu makan miliknya dari dalam tas, sebegitu takutnya jikalau peralatan yang ada di kedai tersebut tidak bersih. Bahkan ketika kondisinya dalam keadaan darurat setelah tidak sengaja tertembak, Ms. Jones yang telah banyak kehilangan darah menolak lukanya dijahit karena melihat jarum yang digunakan hanya dibakar untuk mensterilkan. Saya tidak sedang mencoba memprovokasi kelompok, golongan atau siapapun, saya hanya mempertanyakan kenapa mareka yang memiliki teknologi mutakhir yang dianggap sebagai peradaban paling maju harus takut? Selain itu kalo takut dengan ancaman yang berasal dari luar, maka kenapa tidak mengunci diri dalam rumah? Tentunya dengan Air Conditioner bukan dengan debu-debu di perbukitan Maroko.

Guru dan Murid

Guru dan Murid merupakan sebutan untuk dua subjek berbeda namun saling berhubungan. Yang satu tidak akan ada tanpa yang lain. Secara gampang dapat diartikan bahwa Guru ada karena ada yang berguru (murid), begitu juga sebaliknya Murid ada karena ada yang menjadi Guru. Hubungan kedua subjek ini telah ada sejak penciptaan manusia, Sang Pencipta mengajarkan kepada manusia pertama (Adam) nama-nama benda yang ada di langit dan di bumi. Dengan begitu derajat manusia terangkat, berkat adanya proses belajar – mengajar. Begitulah sejarah hubungan Guru – Murid tercipta dan akan berlanjut sampai akhir dunia.

Lalu apa sebenarnya Guru dan Murid itu? Apakah hanya sekedar yang mengajar dan yang belajar? Ataukah ada makna lain yang lebih luas daripada itu? Apakah tugas seorang Guru benar-benar hanya mengajar? Apakah seorang Murid hanya punya kepentingan untuk Belajar dari Sang Guru? Apakah Hubungan itu hanya sebatas itu? Tentu diri yang bodoh ini tak akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dengan benar, tapi melalui kisah ini, melalui pengalaman pribadi ini, semoga dapat memberi sedikit celah kebenaran sehingga nantinya akan melebar menjadi sebuah terowongan menuju kebenaran.

 Hingga beberapa bulan lalu, aku masih berstatus mahasiswa, masih memiliki hak untuk dibimbing oleh para Guru di kampus. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Guru-guruku yang lain, karena kisah ini tentang pengalaman pribadiku, maka Guru yang diceritakan merupakan Deosen Pembimbingku sendiri. Entah bagaimana kisah ini dimulai, semua seperti sudah ditakdirkan begitu saja. Dan aku bersyukur dibimbing oleh mereka berdua. Kami selalu ‘bertemu’ mulai dari Studio, Pra Tugas akhir, hingga akhirnya menjadi ‘Partner’ di Tugas Akhir. Secara garis besar antara Aku – Bapak – Ibu pembimbingku ini sangat berbeda, yang satu Bapak-Bapak yang Filosofis, Puitis dan sedikit Narsis, sedangkan yang satunya Ibu-Ibu Teoritis, Logis, dan Sistematis. Lalu Aku? Aku hanya mahasiswa biasa-biasa saja, tak punya bakat murni, tak punya kemampuan khusus, tak punya prestasi apapun selama kuliah, dan sedikit sinting. Setidaknya Aku dan Bapak Pembimbing sepakat soal kesintingan kami. Hanya mahasiswa sinting yang buat judul tugas akhir dengan bahan yang sangat diketahui betul oleh para calon pengujinya. Bagaikan menodongkan moncong pistol ke kepala sendiri. Dan tentu Bapak Pembimbing juga sinting karena menyetujui dan mendukung mahasiswa sinting ini. Yang masih waras dari kami berdua hanyalah, bahwa kami sadar kami sinting. Beruntung kesintingan kami berhasil, atau setidaknya tidak gagal.

Dalam proses mulai dari perkuliahan Pra Tugas Akhir, penulisan Proposal, Skripsi hingga masuk ke Studio Tugas Akhir, waktu yang dihabiskan kira-kira hampir 1 tahun. Selama proses itu aku menerima arahan, pertanyaan, asupan layaknya gelas yang diisi dengan air yang dituangkan oleh teko. Tentu sebagai gelas posisi kita harus lebih rendah dari teko, jika tidak demikian maka air takkan pernah tertuang ke dalam gelas. Hal ini yang sering terlupa oleh Murid (termasuk aku sendiri), bahwa Murid adalah gelas, dan Sang Guru adalah Teko. Gelas harus tau dimana posisinya, jika tidak merendah maka takkan pernah terisi sebanyak apapun teko menuangkan air.

Setelah air dituangkan ke dalam gelas, selanjutnya tugas seorang murid adalah mencerna baik-baik air itu. Sang Guru tidak mesti memberikan semua yang Ia punya, karena hal itu akan menyebabkan murid menjadi bergantung. Ketergantungan berarti ketidak sanggupan berdiri sendiri. Suatu saat Murid harus mempraktekan ilmunya di dunia yang berbeda, yang jauh dari Sang Guru, di dunia itu tidak ada tempat bagi Murid yang hanya bergantung pada apa yang diberikan oleh Gurunya. Oleh karena itu Murid harus tetap mencari sendiri jawaban yang ia perlukan, sebanyak atau sedikit apapun petunjuk yang diberikan oleh Sang Guru.

Hingga dikemudian hari roda pergantian waktupun berputar, seorang Murid bukan lagi seorang Murid karena Para Guru akan meninggalkan dunia ini secara nyata. Seorang yang tadinya diberi, menjadi seorang yang harus memberi. Oleh sebab itu sudah selayaknya seorang Murid (sekarang) mempersiapkan apa-apa yang akan diberikannya nanti. Apakah akan memberi lebih atau sama seperti yang diberikan oleh Guru sebelumnya, semua berada di tangan kita. Akan tetapi apalah artinya pengetahuan yang hanya berulang-ulang. Sama halnya saat kita tahu sebuah materi kuliah diajarkan secara turun temurun setiap tahun, tidak ada pembaharuan, tidak ada perkembangan, tentu akan sangat membosankan. Ini berarti tugas seorang murid tidak hanya sampai disini, setelah menerima, mencerna, dan mempraktekan, pada akhirnya murid akan dituntut untuk “melebihi” Gurunya. Menurutku inilah tugas terbesar seorang Murid terhadap Gurunya. Karena tidak ada kebahagiaan yang paling membahagiakan Guru selain melihat Muridnya berhasil melebihinya.

Teruntuk kedua Guruku yang terhormat kupersembahkan tulisan acak ini sebagai ungkapan terima kasih sekaligus pengikrar sebuah janji. Bersamaan dengan tulisan ini ku bulatkan tekad, suatu hari nanti aku akan melebihi Bapak-Ibu Guru. Membaca lebih dari yang Bapak-Ibu baca. Menulis lebih dari yang telah Bapak – Ibu tulis. Mengkaji lebih dalam dari apa yang Bapak-Ibu kaji. Mengusai bahasa lebih dari apa yang Bapak-Ibu kuasai. Dan Mengajarkan lebih dari yang Bapak-Ibu ajarkan. Semoga doa, cita-cita dan impian akan jadi kenyataan suatu hari nanti. Semoga tulisan acak yang hanya berdasarkan argumen pribadi ini cukup layak untuk dibaca.

Baca

Iqro’! Bacalah!
Perintah pertama yg diterima Rasul, sebelum perintah2 yg lain. Karena merupakan perintah tentu nilainya ibadah. Bayangkan perintah ini turun sebelum perintah sholat 5 waktu, begitulah pentingnya membaca. Dengan membaca semua ibadah yg dikerjakan tentu tidak akan asal2an, tidak akan ikut2an.
So, setelah ini apalagi yg akan kita baca?

Wallahu’alam bishawaf..

Langit Kota Ini…

Beberapa jam lalu…

Entah mengapa.. ternyata sambaran kilat di kota ini begitu indah. Cahaya2 itu seakan berlari saling mengejar diantara  gedung2 yg menjulang tinggi di langit kota ini.
Berbeda dgn kilat yg menyambar di langit kampung halaman, disana kilat menegaskan kesunyian malam, kesunyian yg menakutkan. Kilat di langit kota ini lebih seperti permainan iluminasi di taman2 kota. Mungkin karena kilat dilangit kota ini bisu ditelan kebisingan suara kendaraan. Di bawah langit kota ini, suara kendaraan bagai suara dewa yg berbicara semaunya, kapanpun, di sudut manapun, dibawah langit kota ini…

Penasaran “ADA APA DENGAN CINDE?” on YouTube

13406937_1189979507701666_1151381682746605916_n

Tidak perlu menjadi hebat untuk peduli, begitulah kami. Kami hanyanlah segelintir orang yang peduli akan warisan sejarah kota Palembang yang kami Cintai. Adalah Pasar Cinde, yang telah direncanakan oleh para ‘penguasa’ daerah untuk dirobohkan dan digantikan dengan benda yang lebih membawa keuntungan. Sangat disayangkan ketika Palembang benar-benar mengikuti jejak Jakarta, lalu menghapuskan bukti-bukti sejarah yang sebenarnya bisa menjadi identitas kota ini.

Pertama, Pasar Cinde merupakan bangunan pasar tradisional pertama yang dibangun di kota Palembang, juga memliki ke-khas-an arsitektural. Kedua, Struktur Cendawan yang menopang bangunan ini adalah ‘sisa sejarah’ yang menjadi satu-satunya di Indonesia setelah terbakarnya Pasar Johor. Ketiga, Usia Pasar cinde telah memenuhi persayaratan sebagai benda cagar budaya. Ketiga hal tersebut adalah alasan kenapa kami sangat peduli terhadap ‘keselamatan’ Pasar Cinde.

Demi keselamatan Pasar Cinde kami telah melakukan gerakan petisi untuk pemerintah daerah agar membatalkan niat penghancuran terhadap ‘sisa sejarah’ ini. Kami juga telah mencoba menggali informasi dan mendokumentasikan hasilnya. Paling tidak dengan begini apapun yang akan terjadi nanti, kami telah melakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan paling buruknya. Semoga apa yang kami lakukan mendapatkan hasil terbaik atau paling tidak memberikan sesuatu yang dapat diwariskan pada generasi penerus.

Check this out, don’t forget to like and share…